NAPPING PODS SEBAGAI INOVASI BARU BAGI
PERPUSTAKAAN
sumber : http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/
Perkembangan
ilmu pengetahuan semakin pesat, pengaruh ini didorong oleh pemikiran manusia yang
terus menerus bermunculan sehingga membuat perkembangan ilmu pengetahuan
menjadi beraneka ragam. Dalam menghadapi suatu perubahan timbullah berbagai
aspek kehidupan di masa datang yang begitu cepat dan sulit diprediksi arahnya,
maka dunia perpustakaan dituntut untuk selalu berbenah diri dan jeli dalam
membaca kebutuhan pemustaka. Menurut King
dan Bryant (1971:7) mengatakan perpustakaan dimasa depan hendaknya meliputi
semua aspek dan komponen dari informasi. Namun pendapat itu tidak bisa
sepenuhnya di terapkan lagi di zaman ini. Sekarang ini sudah memasuki generasi
III yaitu tentang experience, dimana kondisi perpustkaan yang dulu mempunyai
aturan dilarang berisik, dilarang makan, dan dilarang tidur sudah harus di rubah.
Hal
itu menjadikan tugas besar bagi pustakawan, ide-ide yang dimilikinya bisa
dituangkan dalam mengembangkan perpustakaan, menjadi lebih baik dan teratur.
Jika kondisi perpustakaan masih berpedoman pada peraturan lama, maka
berdasarkan pengalaman yang sudah ada perpustakaan akan dicap sebagai tempat
yang sakra, pelabelan nama itu juga karena didukung oleh banyaknya perpustakaan
yang ditempatkan dipojok sekolahan serta pustakawan berpenampilan khas dengan
menggunkan kacamata tebal dengan pandangan mata yang tajam sembari memantau
pemustaka, dengan galaknya dia akan mengingatkan pemustaka jika ada yang
melanggar peraturan.
Solusi dari opini masyarakat mengenai perpustakaan sakral
harus bisa dirubah, disinilah peran pustakawan dihandalkan, dalam mengubah
pemikiran masyarakat yang sudah terdokrin dengan hal-hal semacam tadi.
Perubahan tersebut bisa dimulai dari bagaimana pustakawan mengetahui perilaku
pemustaka dan bagaimana cara menanganinya. Menurut Rakhmat (1985: 196)
mengatakan bahwa pengguna yang dilayani oleh perpustakaan memang mempunyai
perbedaan-perbeadaan yang jelas, baik dilihat dari segi psikolog, biologis
maupun pengalaman-pengalamannya diantara kedua segi tadi. Hal ini menunjukkan perilaku
yang muncul pada pemustaka dipengaruhi oleh faktor psikolog dan biologis, yang
mengakibatkan adanya perbedaaan perilaku pada tiap-tiap orang.
Sekarang
ini perpustakaan bukanlah tempat untuk sekedar membaca saja, melainkan bisa
digunakan untuk sarana pembelajaran. Menurut
Streatfield (2010: 3) mengatakan bahwa“The
school library can be about many things it can promote and support leisure‐time reading, contribute to the social development of the
students in the school and provide a place to study and do homework”. Dari situ dapat
diketahui bahwa perpustakaan bisa digunakan untuk tempat diskusi dan mengerjakan
tugas, namun karena perilaku berpikir tiap-tiap pemustaka berbeda maka tingkat
kelamaan pemustaka di perpustakaan juga akan berbeda.
Perbedaan
pada perilaku berpikir pada manusia mengakibatkan kemampuan berpikir otak bisa dilakukan
dalam jangka waktu yang panjang atau pendek, tetapi secara umum manusia akan
menemui titik kelelahan dalam berpikir, tingkat penurunan konsentrasi dalam
berpikir pada manusia akan menurun saat otak bekerja sekitar 60 menit. Perlu
adanya relaksasi pada otak manusia agar bisa segar kembali sehingga otak bisa
mulai berpikir kembali. Seperti yang di alami oleh banyak pemustaka yang
berjam-jam berada di perpustakan, mereka akan merasa letih dan lelah. Sehingga
perlu tahu bagaimana caranya agar permasalahan itu dapat teratasi.
Ada kabar baik, bahwa kini sudah ada fasilitas Napping
Pods yang bisa diterapkan di perpustakaan. Napping Pods merupakan tempat tidur
khusus bagi pemustaka. Kegunaan Napping Pods untuk memberikan waktu tidur lelap
selama 20 menit, karena pada suatu penelitian menunjukkan bahwa tidur selama 20
menit akan mengembalikan tingkat energi kita, sehingga pemustaka bisa
konsentrasi belajar lagi. Saat menggunakan Napping Pods maka akan dimanjakan
dengan alunan suara musik yang indah sehingga membawa pemakainya masuk dalam
putaran tidur selama 20 menit dan kemudian membangunkannya. Napping Pods
memakai penutup sehingga hanya kaki pemakainya yang terlihat dan ditempatkan di
tempat terbuka, dan tidak boleh digunakan oleh lebih dari satu orang di waktu
yang bersamaan.
Daftar Bacaan
King,
D.W and Bryatn. (1971). The Evaluatin of Information Services and Product.
Arlington :
Information Resources Press.
Rakhmat,
Jalaluddin. (1993). Psikolog Komunikasi. Bandung : Remadja Rosdakarya.
Streatfield,
David (2010). “School libraries in the UK: a worthwhile past, a difficult
present – and a
transformed future?.” The School Libraries Group of CILIP.
http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2014-09-04/mahasiswa-boleh-tidur-di-perpustakaan-
perth/1364519 Diunduh (6 Maret 2018)
Tidur merupakan bagian dari proses penyegaran otak saat orak sudah mengalami kejenuhan kimiawi. Kajian-kajian kepustakawanan menunjukkan bahwa pemustaka memerlukan waktu-waktu tertentu untuk tidur. Perpustakaan yang bisa mewadahi konsep ini dapat mengembangkan bagaimana agar para pemustaka dapat selalu memiliki otak yang segar dan salah satunya direalisasi dengan fasilitas napping pod.
BalasHapus