Pencegahan Bencana Alam di Perpustakaan dengan Disaster Response Plan







Pencegahan Bencana Alam di Perpustakaan
dengan Disaster Response Plan

Cuaca di Indonesia sekarang ini sudah tidak bisa diprediksi lagi, sehingga masyarakat tidak bisa mempersiapkan aktivitasnya agar tidak terhambat oleh cuaca yang tidak bagus. Bencana merupakan salah satu akibat dari buruknya cuaca, namun bencana tidak selalu disebabkan oleh cuaca yang tidak bagus melainkan juga bisa disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Sehingga tiap institusi atau lembaga harus mempunyai persiapan untuk bisa menghadapi bencana. Perpustakaan, kantor arsip, museum, pusat dokumentasi merupakan tempat yang mempunyai perhatian kusus dalam mendapatkan perlindungan terhadap bencana, karena tempat-tempat itu menjadi aset bangsa dan negara yang menyimpan arsip dan dokumentasi penting.  Bencana tidak dapat dihindari, karena tidak ada yang tahu kapan akan terjadi, tetapi bencana dapat di minimalkan dampaknya. Untuk itu harus tahu terlebih dahulu mengenai jenis-jenis bencana, terdapat dua jenis bencana yaitu bencana alam dan bencana yang disebabkan oleh manusia. Bencana alam yaitu bencana yang terjadi dengan sendirinya tanpa sepengetahuan manusia, dan biasanya Bencana alam disebabkan oleh alam, seperti gempa bumi, banjir, tsunami, atau gunung meletus. Sedangkan bencana disebabkan oleh manusia diantaranya adanya tindakan vandalisme pada koleksi buku, gangguan arus listrik,  tertumpahnya zat beracun, kecelakaan dalam kerja dan kebocoran pada pipa air.
Bencana alam datang tanpa kita sadari, sehingga tidak dapat dihindari. Namun bencana alam bisa diminimalkan dampaknya dengan mengetahui sifat, jenis dan dampak yang ditimbulkan. Maka dari itu, pencegahan bencana alam perlu dilakukan secara terpadu dan terencana. Pada proses penyelamatan dan meminimalkan kerusakan bahan perpustakaan dari bencana alam, maka perlu di siapkan sebuah perencanaan tertulis tentang persiapan menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam. Menurut Henson dalam Rachman (2016: 112)  mengatakan bahwa  perencanaan penanggulangan  bencana  disaster  response  plan adalah sebuah pedoman yang berisi langkah-langkah  dan prosedur yang harus dilakukan oleh lembaga perpustakaan/kearsipan  dalam  persiapan untuk  mencegah  dan menanggulangi bencana, yang dilengkapi dengan langkah-langkah pemulihan sesudah bencana terjadi. Perencanaan penanggulangan bencana alam memang perlu dilakukan oleh setiap perpustakaan, karena tindakan tersebut merupakan bukti kepedulian tinggi terhadap bahan koleksi perpustakaan. Di Indonesia masih banyak perpustakaan yang belum membuat disaster  response  plan, pustakawan masih menyepelekan akan adanya bencana alam. Pustakawan hanya berfokus pada bagaimana cara membuat banyak pengunjung di perpustakaan dan banyak peminjam buku, sehingga ketika suatu ketika bencana alam datang, tidak ada yang bisa diselamatkan.
            Oleh karena itu perlu sekali tiap perpustakaan membuat disaster  response  plan  agar apa yang ada di perpustakaan bisa terselamatkan. Berikut ini menurut Razak (2012), mengatakan perencanaan kesiapan menghadapi bencana dibagi menjadi 4 (empat) tahap, yaitu:
1.    Tahap Pencegahan (Prevention)
Tindakan untuk meminimalkan terjadinya hal-hal yang menyebabkan terjadinya bencana untuk meminimalkan kerusakan yang disebabkan oleh bencana tersebut.
2.    Tahap Tanggapan (Response)
Langkahnya membentuk tim respons terhadap bencana yang anggota-anggotanya memungkinkan untuk selalu ada di tempat pada saat bencana terjadi, melatih personel-personeldan menyusun prosedur-prosedur reaksi terhadap bencana yang diikuti. Tugasnya mulai dari menyusun perencanaan, mengadakan peralatan dan bahan, pelaksanaan operasi penanggulangan dan penyelamatan.
3.    Tahap Reaksi (Reaction)
Menitikberatkan bagaimana kita bereaksi jika bencana benar-benar terjadi. Reaksi yang dilakukan misalnya: dengan membunyikan alarm, mengumpulkan anggota tim, mengendalikan lingkungan pada lokasi bencana, menilai kerusakan awal, mengarahkan tim, masuk ke dalam lokasi bencana, memindahkan koleksi yang terkena bencana ke tempat yang aman, dan lain sebagainya.
4.    Tahap Pemulihan (Recovery)
Menyusun rencana preservasi jangka panjang yang dimulai dengan pengeringan, konservasi dan restorasi koleksi yang sudah rusak. Dalam tahap pemulihan ini, koleksi yang basah terkena air banjir segera dipisahkan untuk dikeringkan. Begitu juga bangunan, dinding, langit-langit dan berbagai perabot yang basah seperti rak-rak koleksi, lemari koleksi, filing cabinet, meja, kursi, dan lain sebagainya segera dikeringkan dan disemprot dengan fungisida untuk mencegah tumbuhnya jamur
Jadi dengan adanya Disaster Response Plan akan membuat aman dan nyaman bagi pustakawan dan pemustaka karena selama mereka berada di perpustakaan, mereka merasa terlindungi jika suatu saat nanti ada bencana alam datang.


sumber : http://harian.analisadaily.com/



Daftar Pustaka :

Rachman,  Yeni  Budi.  2016. Dasar-Dasar  Pelestarian.  Jakarta: Departemen Ilmu Perpustakaan
        dan Informasi FIB UI.
Razak,    Muhammadin.    2012.  Perencanaan    Kesiapan    Dalam  Menghadapi    Bencana.   
        Jakarta:    Perpustakaan    Nasional
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

  1. Selain perencanaan atas hal-hal besar, juga diperlukan perencanaan hal-hal kecil, seperti meja yang kuat untuk berlindung dengan cepat saat terjadi gempa, misalnya

    BalasHapus